| ||
| Salah satu adegan dalam film "Forgiveness". (foto: google) | ||
| SEBAGAIMANA setiap film, film ini menyajikan citraan dua-matra yang dapat dilihat ditambah pergerakan dengaran – suara-suara, musik, dan bebunyian. Inilah agaknya bahan baku dari komposisi film itu. Namun saya hendak menguji ide lain; ide yang mengusulkan film ini sebagai sebuah semesta bermatra empat. Sebagai obyek, sepanjang Anda dapat melihat dan mendengarnya, film itu bermatra tiga – dua yang nampak dan satu terdengar. Tapi sepanjang film ini membangun ide artistik, sepanjang film ini mampu menggugah penonton, atau pengintipnya, mengubah pikiran kita, Anda dan saya, film ini dalam kenyataan lalu bermatra empat. Saya menamai empat matra ini: matra historis, matra narasi, matra psikoanalisis, dan matra budaya. Sasaran film ini, sebagai suatu karya seni, adalah memadukan keempat matra ini, dan mengusahakannya agar koheren. Matra seni dengan demikian seakan-akan menjadi matra kelima, yang dicapai dengan mempertautkan keempat matra lain. Nah, saya akan memeriksa keempat matra ini satu demi satu. Matra historis, sudah jelas, yaitu meditasi tentang Israel dan Palestina. Ide fundamental dari Udi Aloni adalah bahwa “Palestina” adalah nama yang menghalangi Israel, sebagaimana ia ada, untuk menjelmakan diri sebagai inkarnasi dari universalitas Yahudi di mata dunia. Tapi demikian pulalah, “Israel” diartikan sebagai kata pemisah yang dibenci, atau obyek kekerasan yang membabi-buta, dan “Israel” adalah apa yang mencegah Palestina menjadi inkarnasi dari universalitas Arab di mata dunia. Udi Aloni tidak membuat filmnya menjadi suatu visi terekayasa ataupun abstrak tentang pembelahan atau konflik di antara pendukung Israel dan Palestina. Pertanyaan tentang perang atau berbagi wilayah bukanlah masalah pokok Udi. Sebab sahabat saya Udi mengira bahwa Palestina dan orang Palestina sudah terinskripsi justru dalam hakikat Israel sendiri. Cecitraan mencekam yang mengekspresikan ide ini adalah orang-orang Palestina yang tewas, efek-efek personal mereka, puing-puing reruntuhan mereka, tempat dibangun sebuah rumah sakit psikiatri di sebuah desa yang diluluh-lantakkan perang 1947. Hendak dikatakan bahwa sejak semula, hal yang menggelisahkan dan mempengaruhi Israel sebagai roh, sebagai pemikiran, hal yang tak dapat direnggut darinya, justru adalah kehadiran bawah tanah – fundamental – dari kesalahan mutlak yang ditimpakan pada orang-orang Palestina. Maka mustahil membayangkan kemenjadian Israel, sebagaimana mustahil memikirkan apa yang masih tersisa untuk menjadi Palestina, di bawah dominasi keterpisahan, parit perlindungan, dan dinding-dinding. Sebaliknya, adegan penutup, yang melukiskan usaha menyembuhkan penyakit rohani Israel itu, telah memperlihatkan bahwa dalam adaan (being) Yahudi itu, ada pula adegan tentang turun ke bawah tanah, suatu adegan pemurnian dengan mengakui asal-usul, suatu adegan yang akan dapat memulai suatu sejarah lain, justru karena setidaknya, tak membutuhkan lagi keterpisahan dan perang lain. Dikatakan, dengan lantang, bahwa sudah sejak semula bumi sendiri sudah dapat dialami bersama; bahwa ia seharusnya dialami bersama. Dengan demikian, simpul kehidupan sehari-hari yang akan menyatukan kaum Palestina dan Israel itu tak beralasan lagi diceraikan. Saya ingin menandaskan butir berikut ini: bahwa apa yang dikisahkan film ini kepada kita, Idenya, sama sekali bukanlah tesis politik dalam pengertian yang beredar luas saat ini. Kebenaran itu diinskripsikan, dalam hal ini, dalam seni. Kebenaran menjadi efek dari seni. Film ini memperlihatkan dalam satu rangkaian gambar, apakah yang ada, apakah yang mungkin, dan apakah yang seharusnya. Apa yang ada: keter-pisahan, perang dan kekerasan. Apa yang mungkin telah terjadi: kasih yang sama terhadap tempat sebagai nilai universal yang dahsyat, memadukan unsur-unsur heterogen dengan musik yang belum ada presedennya (musik dan tari, dalam film Udi Aloni, berceloteh dari kedalaman: makna dari memeriksa sesuatu yang semestinya telah terjadi). Dan akhirnya, apakah yang seharusnya; suatu deklarasi baru yang memungkinkan orang untuk memulai lagi, dan yang disimpulkan oleh judul film ini, “Forgiveness”. Ketika dalam pergerakan film ini terucap apa yang eksis, dosa asal itu kehilangan daya historisnya. Tak ada lagi kebutuhan untuk mengulang keterpisahan yang diciptakan dengan kebohongan. Dengan menggabungkan aksi mereka di satu wilayah yang tak terpisah, universalitas Yahudi dan universalitas Arab akan memiliki efek mendamaikan yang kreatif untuk dunia ini – yang oleh Mao Zedong disebut, “bom atom rohani”. Mari kita beralih ke matra narasi. Film ini, toh, juga mengisahkan suatu cerita. Cerita tentang seorang pemuda Yahudi, anak seorang Yahudi Jerman, yang tinggal di Amerika Serikat. Menolak kebisuan si ayah yang tak sok bersih itu, anak ini mendaftarkan diri sebagai prajurit Israel, demi menghadapi musuh nyata, dan bukan hantu-hantu historis belaka. Lalu ia mau membunuh anak dari seorang perempuan yang sebetulnya ia kasihi. Ia tentu akan jadi gila, jadi bisu, penjahat tak kentara, atau bunuh diri, ketika terbayang kemungkinan pembunuhan terhadap anak seorang perempuan lain yang ia kasihi. Para perempuan dalam film ini senantiasa berasal dari suatu tempat, dari dunia liyan yang sudah jelas, dunia Arab. Film ini menguak logika repetisi yang mengerikan yang tak pernah disuarakan itu… Tapi film ini juga menolaknya, dengan melibatkan diri dalam proses pemurnian, dengan cara kembali pada yang asali. Narasi ini mengakui dan menerima bahan-bahan biasa dan dengan tata yang biasa pula: ada pemberontakan, kekerasan dan perang, cinta, kejahatan dan kegilaan, usaha bunuh diri dan penyelamatan pamungkas. Kita temukan seluruh elemen melodrama dalam film ini. Bahkan sebetulnya, kita menghadapi melodrama ini. Akan tetapi, matra kedua ini, melodrama ini, mengusung pula matra pertama, sebab setiap terma-nya juga merupakan tahap terinskripsinya diri sang subyek (si pahlawan muda) ke dalam masalah historis yang menjadi konteks keberadaan dan sekaligus mengubahnya. Di sinilah Udi Aloni mempraktikkan laku tua novel zaman ini. Dan, sebagaimana senantiasa dalam jenis novel semacam ini, keputusan-keputusan individu itu melambangkan pula pilihan-pilihan historis dan politis yang mungkin terjadi. Dengan demikian, kedua kemungkinan untuk mengakhiri cerita telah dengan canggih diusulkan. Entah dalam wujud si pemuda, yang melambangkan Israel, menerima memori bahwa ia telah membunuh, sehingga perdamaian dan rekonsiliasi menjadi mungkin, atau si pemuda menutup diri dalam kebisuan, lindap dalam kelimun, dan repetisi, tegasnya bunuh diri. Dengan kata lain, tindakan melanjutkan modalitas orientasi politik yang berlaku saat ini sesungguhnya merupakan ancaman kematian bagi Israel sendiri – sebuah tindakan bunuh diri historis. Matra ketiga, psikoanalisis, dihubungkan dengan dua matra sebelumnya melalui metafora. Sebagaimana bawah tanah orang Israel, dan dengan demikian penyakit rohani orang Yahudi, adalah Palestina yang tersembunyi – kegilaan si anak laki-laki menemukan asal-usul rahasianya dalam apa yang samar dan tersembunyi pada diri si ayah. Salah satu tema utama film ini adalah bahwa masalah kontemporer kita terletak, tak ada kesangsian, dalam pengakuan atas diri para ayah oleh para anak lelaki, tapi yang lebih mendesak adalah pengakuan terhadap si anak laki-laki oleh para ayah. Dalam pengertian ini, adegan yang paling penting mungkin adalah konfrontasi antara dua kemungkinan ayah si pahlawan, yang keduanya, sebagaimana tampak dari tattoo mereka, adalah orang-orang yang selamat dari deportasi dan pembasmian. Di satu sisi, ada ayah sebenarnya, seorang musisi Jerman yang ingin melupakan – di Amerika – takdir historis orang Yahudi. Di sisi lain, ada ayah sejati, laki-laki tua paling gila di asilum itu, penjaga kedalaman bumi (“Sudah dikabarkan, keledai tua!” kata si Marxis yang bernubuat ini), ia mengerti bahwa menyangkal kematian-kematian orang Palestina sama halnya dengan memberangus seluruh memori, tentang kamp-kamp dan pembasmian, baik yang aktif maupun yang tertuju pada perdamaian. Pilihan untuk tunduk kepada satu pihak atau yang lain akan membuka keputusan fundamental sang anak. Suatu keputusan yang juga menandai hal berikut: melanjutkan jalan keterpisahan, perang, kesalahan terhadap orang-orang Palestina, sama saja dengan menegaskan kepastian sinis bahwa tewasnya jutaan orang Yahudi itu sebenarnya dan selama-lamanya meninggal sia-sia, tak peduli sekian banyak monumen dibaktikan untuk mengenang mereka. Sebenarnya, segala hal yang dapat dibaktikan pada si mati adalah monumen hidup tentang rekonsiliasi Palestina. Udi Aloni tidak mengelak dari karut marut alusif mana pun. Inilah pesona aneh dari karya ini. Di sini kita serentak mendapati Oedipus, yang harus membunuh si ayah agar dapat mencapai tujuannya, dan Freud, dengan mimpinya yang sohor tentang anak laki-laki yang terbakar di bawah tilikan mata tak berdaya sang ayah. Sang ayah sebenarnya tidak mampu memahami apakah maksud si anak ketika ia berkata kepadanya, “ayah, lihat tidak kalau saya terbakar?” Dan bukankah memang benar bahwa kini, di semua tempat di seantero dunia, anak-anak laki-laki kita terbakar di bawah tilikan mata kita, dalam ketidakpahaman umum kita? Tapi kita juga bertemu dengan Oedipus ketika ia berada di Kolonus, sebab gadis Palestina yang mati itu adalah Antigon baru, yang menghantui si anak laki-laki sebagai inkarnasi kejahatan yang dilakukannya, tapi dengan lembut juga membimbingnya menuju pemurnian. Film ini juga merupakan sebuah permohonan yang sangat mutakhir untuk menjalankan operasi psikoanalisis subyektif yang bertentangan dengan doktrin pengobatan kimiawi yang obyektif dan nir-memori itu. Untuk menyembuhkan si prajurit muda, dokter tua Yahudi itu – diperankan dengan kewajaran yang menakjubkan oleh seorang aktor besar Palestina – menentang dengan mengerahkan seluruh pengetahuan dan pengalamannya, pengarahan resmi yang meresepkan dosis besar suntikan serum yang akan mengakibatkan lupa. Ia bersikeras meresepkan pengobatan psikiatris dengan memanfaatkan kelemahan, dan intrik Negara (pertarungan kekuasaan ini dilambangkan dengan adegan seks serampangan dengan seorang fungsionaris). Kita saksikan, di sini, persekongkolan dengan matra pertama: di muka bumi yang berdarah-darah ini, melupakan kesalahan pertama, memakai obat-obatan kimiawi dan bukan pemikiran, sama artinya dengan mempersiapkan repetisi tak berkesudahan untuk memilah-milah kekerasan. Apa yang akan mendesakkan tujuan menuju penyelamatan bukanlah kelembutan yang baru saja ditemukan si ayah untuk anak laki-lakinya, bukan pula simpati si dokter yang kelewat gampangan, melainkan suara ketidaksadaran itu sendiri, baik individual maupun historis, dari si gila, atau si nabi, yang mengerti bahwa di balik rumah sakit itu, di kedalaman bumi, ke sanalah orang harus pergi untuk menangguhkan takdir keterpisahan yang mematikan itu, supaya peluang dari kasih dapat ditegaskan kembali. Matra keempat, yang saya namai “budaya”, sudah sejak semula lebih berwatak polifonik. Matra ini terbentuk dengan menjenuhkan narasi, dengan mencangkokkan seni dan budaya, yang setidaknya berasal dari empat dunia; dan dengan membuka diri, sebagai lambang sebuah negeri dan lebih umum lagi dunia ini, agar dapat melihat dan mendengar bahwa jalan menuju penyelematan itu dilalui oleh multiplisitas ini sendiri, dan bukan oleh perundingan yang menghasut peperangan dan menggarisbawahi gegar budaya. Ini bukan sejenis prinsip lembek tentang tenggang-rasa atau hormat pada perbedaan. Ini tentang menyarikan secara langsung fakta bahwa universalitas kontemporer tak mungkin merupakan warisan tunggal siapa pun, melainkan, menyerupai rajutan simpul-simpul, sebagian kendur, sebagian lain ketat, dan yang lain sama sekali berbeda. Pendeknya, justru karena Israel atau Palestina adalah nama dari suatu simpul teladan, tempat warisan-warisan yang khas toh dapat bermain bersama, maka di sinilah hunian universal, yang sama sekali baru itu, dapat dan harus bermula. Empat dunia budaya yang disitir dalam film Udi ini adalah: kreasi artistik Eropa lama, savoir-vivre dan gairah akan kehidupan yang subtil dan nyaris tak lekang dimakan waktu yang menyifati dunia Arab, modernitas Amerika, dan kerohaniahan Yahudi yang sangat diperlukan itu. Adegan-adegan luar biasa yang memperlihatkan kesalingmerasukan, tabrakan, saling membuahi, dari dunia-dunia yang semua tersirat dalam pergolakan Israel-Palestina. Marilah kita kutip nyanyian seorang perempuan Palestina yang menyela dan menaklukkan para penari kelab malam Israel, atau tarian para prajurit dalam sinagog, seakan-akan mereka kerasukan, mereka, para ksatria yang menindas itu, terbuai kemabukan indah yang sudah ditakdirkan untuk seluruh bumi. Izinkan saya mengutip adegan yang menyentuh saya secara pribadi, ketika sang pahlawan, sambil memainkan piano, mendendangkan karya Schumann yang membualkan pemaaafan dalam kasih, dengan wajah berbalur air mata. Sebab dalam hal ini pertanyaan-pertanyaan sangat penting tentang film ini – sang ayah, Jerman, pembasmian orang Yahudi, Israel, Palestina, universalitas seni dan sulitnya kasih – bergabung dalam kesatuan yang sangat kompleks sedemikian rupa hingga satu subyek soliter yang tanpa daya tidak akan sanggup menanggungnya tanpa tercabik-cabik. Anda faham sampai taraf mana film Udi Aloni ini terjalin berkelindan, ketika masing-masing unsur konstruksinya diguratkan satu sama lain, sedemikian sampai narasi fiksi itu juga menjelma menjadi alegori artistik, interogasi psikoanalisis, meditasi historis, dan proposisi rohani. Dan meskipun dalam kenyataan unsur-unsur emosionalnya beredar lepas dalam film ini, setiap penonton dipanggil, bukan untuk memisahkan – seperti telah saya lakukan pula – bumbu-bumbu pembangun komposisi film ini, melainkan untuk menerima dampak situasi yang digambarkan sebuah film, sebuah melodrama yang menghanyutkan, dan dengan demikian mengalami bukti itu sebagai sesuatu yang dialami bersama dan tak terceraikan. Saya ingin mengakhiri esei ini dengan menyatakan bahwa film ini pada dasarnya optimistik. Serepetitif dan tanpa harapan apa pun situasinya, dalam kekarut-marutan itu, masih ada peluang untuk menghela nafas. Keyakinan inilah yang diseru¬kan film ini. Dengan demikian film ini tergolong sebagai apa yang saya sebut afirmasionisme, yang semoga dapat menjadi semboyan bagi seni masa depan. Dalam doktrin ini, ide-ide yang dilahirkan seni bukanlah ide yang mengutamakan menghakimi dunia melainkan berusaha memperlihatkan pada titik-titik mana dunia ini mungkin diubah. Perumpamaan Udi tentang Israel dan Palestina bersifat afirmasionis dalam pengertian ini. Perumpamaan-perumpamaan itu mengindikasikan titik yang memungkinkan orang mengatasi keterpisahan. Suatu perlambangan yang mendeklarasikan kekuatan Palesisrael, atau Israpalestina, demi secara imanen mengubah bencana itu. |
Sabtu, 26 Februari 2011
Matra Seni: Tentang film Udi Aloni, "Forgiveness"
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Entri Populer
-
Ini adalah daftar 10 lubang besar yang terbuka di bumi dan mencengangkan. Chuquicamata Chili Chuquicamata adalah sebuah lubang ter...
-
Berikut ini adalah bahaya rokok terhadap kesehatan kita rokok dapat menyebabkan Kanker pundi kencing, Kanker perut, Kanker usus dan rahi...
-
rivalda endarsa rivalda adalah orang yang suka mengupil lalu upilnya di lapkan ke baju orang rivalda juga sering menggaruk - menggaruk bu...
-
1. Download Themes Windows 7 Cara paling gampang untuk memperindah tampilan desktop komputer adalah dengan mengganti themes yang ada. Na...
-
Audi firdaus Audi adalah orang yang paling hebat bermain judi dia sering menang tapi terkadang dia kalah dan dia ngutang dulu untu...
-
Segitiga Bermuda merupakan teka-teki alam semesta yg membuat manusia bingung utk mengungkapkannya semenjak 500 th lalu saat Colombus menem...
-
ak dalam Foto bernama David Vetter, anak ketiga dari pasangan David Joseph Vetter dan Carol Ann Vetter. Anak kedua dari pasangan ini (ka...
-
Ini adalah kejadian aneh yang menimpa manusia-manusia di Asia. Perkaran ini menggemparkan kerana mendapat liputan luas dari media mass...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar